Senin 14 Nov 2022 18:23 WIB

Ganjar Sesalkan Adanya Perundungan di SMA Sragen

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyesalkan adanya perundungan di SMA Sragen.

Rep: S Bowo Pribadi/ Red: Bilal Ramadhan
Ilustrasi perundungan. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyesalkan adanya perundungan di SMA Sragen.
Foto: pixabay
Ilustrasi perundungan. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyesalkan adanya perundungan di SMA Sragen.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengingatkan tidak boleh ada lagi kasus perundungan terhadap peserta didikn di lingkungan pendidikan.

Terkait dengan kasus perundungan yang terjadi di sebuah SMA di Sragen gubernur menegaskan siapapun pelakunya jika ditemukan kasus serupa di kemudian hari akan berhadapan dengannya.

Baca Juga

"Saya ingatkan agar tidak ada orang yang punya agenda tersembunyi, soal bullying dan perundungan," kata Ganjar, di Semarang, Senin (14/11).

Ganjar menambahkan, semua guru tidak boleh melakukan pembiaran apalagi melakukan perundungan kepada muridnya dengan alasan apapun, karena siswa harus berkembang.

"Keberadaan guru adalah membimbing, bukan sebaliknya," kata Ganjar.

Ganjar mengatakan, mestinya guru memberikan konseling kepada mereka dengan baik bukan kemudian tutup mata kepada pelaku perundungan.

Maka, kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan gubernur berpesan untuk menangani tindakan yang dapat mencederai kenyamanan di lingkungan pendidikan.

Karena gubernur tak akan segan untuk mencopot guru/pendidik yang ikut terlibat, jika terbukti dalam kasus perundungan di kemudian hari.

Bahkan, jika perlu para guru nanti diminta tanda tangan untuk tidak melakukan bullying dan perundungan kepada para peserta didiknya di lingkungan pendidikan.

Tidak ada toleransi untuk pendidik yang melakukan. "Kalimat terakhir yang harus ditegaskan adalah, harus siap untuk  dicopot, jika melanggar peringatan tersebut," kata dia.

Masih terkait dengan perundungan di Sragen, dia memastikan hari ini yang bersangkutan dipanggil DPRD setempat, mudah-mudahan bisa terlihat apa motifnya.

"Saya tegaskan, saya sudah mengingatkan ini berkali-kali. Jadi kalau anda masih melanggar, anda berhadapan dengan saya,” ujar dia.

Seperti diketahui, informasi perihal  siswi SMA Negeri 1 Sumberlawang, Kabupaten Sragen, S (15) diduga menjadi korban perundungan akibat tidak memakai jilbab. Sampai saat ini S enggan masuk sekolah lantaran merasa takut.

Orang tua S, Agung Purnomo, mengungkapkan, setelah kejadian tersebut, anaknya masih mau berangkat ke sekolah. Namun, karena diduga dirundung oleh kakak kelasnya, S minta dijemput pulang dan enggan masuk sekolah lagi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement