Rabu 22 Jul 2020 19:30 WIB

Ganjar: Kuota Internet Bakal Masuk Komponen Pendidikan

Besaran dananya akan disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Andi Nur Aminah
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat memaparkan penanganan pandemic Covid-19, di hadapan rombongan Komisi VIII DPR RI, di ruang rapat Gubernur Jawa Tengah, Senin (20/7).
Foto: Pemprov Jateng
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat memaparkan penanganan pandemic Covid-19, di hadapan rombongan Komisi VIII DPR RI, di ruang rapat Gubernur Jawa Tengah, Senin (20/7).

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Problem hambatan akses kuota dalam menunjang proses Pembelajaran Jarak jauh (PJJ) di masa pandemi Corona juga mendapatkan perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Saat ini Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah sedang menyiapkan sejumlah komponen pendidikan dalam menghadapi masa pandemi, salah satunya adalah kuota internet bagi anak didik.

Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam Webinar bertema ‘Anak Cerdas dan Kreatif Jawa Tengah Maju’ yang digelar dalam Rangka Hari Anak Nasional, Rabu (22/7). Menurutnya ini harus dilakukan supaya anak-anak tetap bisa belajar jarak jauh dan bisa mengikuti proses pembelajaran secara daring dari rumah. Sehingga teknologi informasi menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan problem tersebut.

Baca Juga

“Maka setelah datang Covid-19, kita diminta menata ulang semuanya dan untuk kuota, sudah saya sampaikan kepada dinas terkait agar menjadi salah satu komponennya,” tegas Ganjar dalam webinar yang juga menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Kepala Perwakilan Unicef Jawa, Arie Rukmantara; Forum GenRe Jawa Tengah, Pingkan Saktiani dan Pengurus Forum Anak Jawa Tengah tersebut.

Gubernur juga menyampaikan, pandemi memaksa situasi untuk membuat dan menyesuaikan tatanan baru dalam kehidupan, salah satunya di dunia pendidikan. Maka ia pun merespon terhadap anak-anak dan orang tua yang masih terus bertahan di masa pandemi seperti sekarang ini. Anak-anak tetap memiliki semangat di tengah pandemi.

Diakuinya, ada orang tua yang bagus mendampingi dan ada juga yang mengeluh. “Tapi di balik anak yang hebat ada orang tua yang hebat pula,” tambahnya.

Perihal hambatan akses PJJ pun juga diakui gubernur. Ia memberikan contoh ada anak di Banyumas yang rela ke bukit untuk mencari signal agar tetap bisa mengikuti kegiatan belajar secara daring. Baginya itu merupakan anak yang mampu terus bertahan meskipun dalam situasi serta kondisi yang sangat sulit hingga bisa menyelesaikan persoalannya. Maka ia pun tetap mewanti-wanti orang tua untuk mendidik anaknya dengan budi pekerti yang baik dan tidak mudah menyerah.

“Anak dan orang tua memang harus berinovasi dan kreatif di masa pandemi seperti ini. Saya nitip ajari anak-anak di rumah budi pekerti yang baik dan tetap kreatif dalam situasi sulit ini,” tegas gubernur.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Padmaningsih mengatakan bahwa biaya kuota internet untuk pembelajaran jarak jauh sudah diatur dalam Permendikbud No 19 Tahun 2020.

Yakni diperbolehkan menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, untuk besarannya disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing. Hal tersebut untuk menunjang siswa dan guru dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Tapi anggarannya memang harus disesuaikan dengan kemampuan sekolah. Disamping itu juga, ada peruntukan dana BOS yang lain. “Sebab sejauh ini, belum ada sumber anggaran khusus yang lain untuk pembelian kuota internet sebagai sarana pembelajaran jarak jauh,” jelasnya.

Guna menyisati hambatan siswa yang berada di lokasi sulit akses internet, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengambil langkah guru kunjung, yakni guru mengunjungi siswa untuk memberikan pembelajaran. “Atau bisa mengirim materi pelajaran dan tugas kepada siswa dan nanti dikirim kembali kepada gurunya jika sudah selesai,” tegasnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement